Semester 6 – S2 TL ITB

Mengawali semester 6 dengan target dapat mencapai wisuda April. Wisuda berdekatan dengan ulang tahun ‘kan such a perfect plan gitu ya ga sih? Haha. Tapi sayangnya tidak berhasil.

Di semester 6 cerita saya masih seputar tesis dengan lika-liku di dalamnya. Di semester ini saya belajar banyak tentang persistensi dan menemukan betapa indahnya rencana Allah. Hikmah selalu ada dan terserak, tugas kita adalah mengumpulkannya.

***

Pada awal semester 6, saya diperbantukan dosen pembimbing untuk menjadi panitia workshop tentang mikroplastik. Menarik sebetulnya karena membuat saya jadi lebih banyak bertemu dosbing untuk rapat dibandingkan bimbingan. Haha. Alhamdulillah, berawal dari workshop ini menjadi jalan bagi saya untuk bertemu dosen kimia yang memiliki alat instrumen yang cocok untuk menguji sampel mikroplastik. Dari workshop ini juga sedikit banyak saya belajar betapa seriusnya para peniliti dunia terhadap topik yang sedang mereka geluti. Pada workshop ini juga saya melihat bahwa permasalahan plastik ini tidak sesederhana yang ada di kelas, ada para pengusaha dengan kepentingan bisnisnya, pemerintah yang sangat sibuk, LSM yang idealis, hingga akademisi yang berjuang seolah-olah berada di belakang layar. Pada akhirnya juga terlihat, bahwa kita hanya manusia biasa yang tidak bisa menyelesaikan semuanya sendiri, perlu kerja sama, dan berlapang dada menurunkan ego masing-masing untuk kebaikan bersama.

img_20180223_084718.jpg

Pada saat semester 6 saya juga sempat mengikuti workshop mikroplastik lainnya, tetapi kali ini sebagai peserta bukan panitia. Rasanya, isi workshop-nya lebih general dibanding yang dulu. Walaupun stakeholder yang datang lebih banyak karena pada saat itu sedang gencar isu mikroplastik di air minum. Di workshop ini juga saya bertemu dengan mahasiswa matrikulasi TL dan juga mahasiswa psikologi. Menarik memang mendengarkan solusi permasalahan dari perspektif yang berbeda apalagi pendekatan sosial.

workshop 2

Oh ya ngomong-ngomong, dari mahasiswa TL tersebut saya jadi tahu bahwa perkuliahan di S2 TL sedikit banyak sudah berubah. Mulai dari BPP/BP2 (Biaya Penyelenggaraan Pendidikan) per semester yang tadinya 9,5 juta pada tahun 2015, menjadi 13,5 juta pada tahun 2018. Selain itu, adanya sistem matrikulasi satu semester khusus untuk mahasiswa S2 yang S1-nya bukan TL. Semester khusus ini terpisah sebelum semester 1 yang sebenarnya, dengan biaya yang diambil per SKS. Saya lupa biaya per SKS nya berapa. Yang jelas, perubahan sangat signifikan terjadi hanya dalam satu tahun.

***

Kembali seputar tesis.

Singkat cerita, setelah bolak-balik mengukur sampel ke prodi kimia, pengamatan dengan mikroskop yang diulang-ulang, gonta-ganti metode statistik, dan penulisan draft yang tak kunjung usai, saya memberanikan diri untuk maju Seminar 2.

Sebetulnya, salah satu trik mengerjakan tesis agar cepat selesai yang terlambat saya sadari adalah mulailah menulis draft sejak dini, karena ketika kita mulai menulis, akan terasa berbagai kekurangan dari penelitian kita. Mulai dari metode mana yang perlu diperbaiki, hingga kesadaran bahwa penelitian yang kita lakukan ternyata masih sedikit. Haha. Apalagi rasanya saya tipe orang yang perfeksionis tak berkesudahan, terus merasa kurang dan kurang, bahkan hingga buku tesis sudah dijilid 😐

Alhamdulillah akhirnya saya mengikuti Seminar 2 saat hari pertama Ramadhan. Yap. Ramadhan kali ini terasa berbeda karena diisi dengan menyelesaikan tesis. Hiks.

Tips seminar 2: bicara saja dengan yakin, bermain intonasi, tampilkan sedikit video jika memungkinkan, yakin saja walaupun Bahasa Inggrismu biasa saja, karena kamu yang paling mengerti penelitianmu sendiri.

seminar 2

Beberapa pekan setelah seminar-2 adalah waktu untuk sidang. Alhamdulillah saya mendapatkan jadwal sidang pada tanggal 23 Ramadhan, yang berarti malam sebelumnya adalah malam ganjil 10 hari terakhir Ramadhan. Epic.

Khawatir, demam panggung, panik-panik berlebih masih saya rasakan apalagi H-1 sidang. Wkwk. Berhubung malam ganjil dan kalau pulang ke rumah juga rasanya saya tidak akan bisa tidur, ditambah jadwal sidang yang pagi hari jam 7.30 membuat saya berpikir: rasanya saya lebih baik menginap saja, menginap sekalian i’tikaf. Akhirnya saya memutuskan i’tikaf saja malam sebelum sidang. Sayangnya saya i’tikaf hanya numpang tidur dan membuat slide PPT sidang. HAHA. Prihatin. Deadliner is real 😐

Sidang pun dimulai. Semua mengalir begitu saja. “Oh jadi begini rasanya.” Dua jam sidang berjalan tanpa terasa, dan Alhamdulillah dinyatakan lulus. Tapi perasaan saya seperti, “Oh? Sudah?” Seperti biasa saja. Rasanya jauh lebih senang ketika dulu dapat topik tesis baru di semester 4 dibanding sidang. Haha. Alhamdulillah.

Tips sidang: Kalau ditanya, tinggal jawab. Kalau gabisa jawab, tinggal ngeles. Wkwk. Ngga tinggal ngeles juga sih, perlu menampakkan wajah prihatin dulu kayaknya.

IMG-20180607-WA0005

IMG-20180609-WA0005IMG-20180609-WA0008spot wajib 2bph kamil tersisa

***

Pada akhirnya saya pun tersadar, dulu saya mengawali tesis di bulan Ramadhan, bisa umroh di bulan Ramadhan, mendapatkan pengumuman exchange ke Jerman di bulan Ramadhan, memantapkan hati untuk kuliah lagi di ITB di bulan Ramadhan, hingga akhirnya lulus pun di bulan Ramadhan. Betapa indahnya Allah membuat rencana 🙂

Sungguh jika dipikir-pikir, sehebat apapun rencana kita, rencana Allah memang akan selalu jadi yang terbaik.

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmush shalihat.

***

Begitulah kisah saya di S2 TL ITB. Saya sadari di artikel saya di Semester 1-3, lebih banyak isu teknikal seputar perkuliahan, tetapi di Semester 4-6 lebih banyak curhat. Haha. Maafkan.

Berbagai hal seputar akademik di S2 TL pasti akan berubah dan berkembang, tapi setidaknya, semoga pengalaman singkat saya ini bisa bermanfaat, baik bagi para calon mahasiswa S2 TL, mahasiswa S2 TL, atau mungkin masyarakat secara umum.

Untuk para pembaca yang sudah mengikuti sejak awal, saya ucapkan TERIMA KASIH BANYAK! 😀

mi familiabphIMG-20180724-WA0007lab air

Juli, 2018

Advertisements

Semester 5 – S2 TL ITB

Setelah semester 4 akhirnya dapat topik tesis, Alhamdulillah penulis dihibur oleh Allah dengan diberi kesempatan berangkat umroh di akhir Ramadhan. Sedih dan terharu sih. Tulisan tentang umroh ada di link ini.

Sebetulnya di akhir semester 4, saat Ramadhan, saya sempat diajak dosen pembimbing untuk datang ke suatu seminar di Jakarta. Seminar ini dibawakan oleh Jenna Jambeck yang dikenal akibat penelitiannya yang menyebutkan Indonesia menjadi penghasil sampah plastik terbesar nomor 2 di dunia. Yang menarik sebetulnya bukan tentang seminarnya, tetapi lebih saat harus pergi bersama dosen yang baru dikenal, satu mobil, dalam perjalanan kurang lebih 3 jam. Haha. Agak awkward kan kalau diam saja, jadi ya mau tidak mau ngobrol juga. Di perjalanan, beliau cerita kurang lebih begini, “Bagaimana jadi kira-kira penyelesaian permasalahan sampah di Indonesia? Apakah kerja berbagai LSM lingkungan sudah efektif? Atau seperti pemerintah yang seringkali seremonial belaka tetapi tidak ada tindak lanjut yang signifikan?” Lalu kemudian beliau bertanya lagi pada saya, “Kalau menurut kamu nih sebagai mahasiswa, apa solusi yang kamu tawarkan?”

Saya pun rasanya hanya terdiam dan tertawa, “Haha gimana ya Bu.”

Kompleks dan sistemik, tapi saya membatin, kolaborasi stakeholder dalam sistem quadruple helix, yaitu pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat atau LSM, harus berjalan dan bersinergi untuk menyelesaikan permasalahan sampah. Tak bisa seorang diri, tak bisa satu pihak saja. teori belaka. sok tau ya gue.

***

Oke langsung ke cerita Semester 5.

Pada Semester 5 saya mulai menyusun strategi secepat mungkin agar saya bisa segera seminar 1 (lagi). Menyusun proposal dan mulai menyusun rencana untuk uji pendahuluan. Oh ya, di Semester 4, disebutkan kalau saya ingin tesis yang jauh dari lab, pakai software pemodelan dan hanya di depan laptop saja kan?

Nyatanya, di topik ini saya harus legowo jika saya harus nge-lab lagi. Haha. Bahkan saya harus terjun ke lapangan (ke sungai) untuk melakukan sampling. Suatu hal yang baru untuk anak Kimia yang kerjanya di lab saja.

Alhamdulillah-nya masih banyak orang baik di sekitar saya, sehingga saya banyak dibantu dalam proses sampling di lapangan.

img_20170726_222142_610-e1537112849590.jpg

Hal yang “menarik” dari proses sampling ini adalah lokasi sampling memiliki kondisi sanitasi yang begitu memprihatinkan. Sebetulnya, bersinggungan dengan hal seperti ini menyadarkan saya bahwa ketimpangan sosial begitu jelas terasa, di sekitar kita masih banyak orang yang memiliki kondisi ekonomi memprihatinkan, akses sanitasi yang tidak layak, rumah sederhana nan rapuh yang seringkali terendam banjir, dan kondisi air sehari-hari yang terkontaminasi berbagai limbah. Hal tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi kita yang masih bisa hidup dengan nyaman.

***

Setelah sampling untuk uji pendahuluan, mencoba meraba-raba metode yang sesuai, menggunakan mikroskop untuk menebak-nebak mikroplastik, menyusun kembali draft, saya mengajukan lagi untuk maju seminar 1. Memang ngebut. Haha. Lagipula, karena sudah pernah seminar 1 sebelumnya, jadi saya sudah tahu polanya. Namun, tetap saja ada ketegangan yang saya rasakan ketika akan memulai seminar 1. Apakah saya akan ganti topik lagi? Apakah dosa masa lalu akan diungkit kembali? Wkwk.

Ternyata, alhamdulillah seminar 1 (edisi 2) berjalan lancar, sangat lega rasanya. Haha. Walaupun banyak metode yang dirombak, sampling mulai lagi dari awal, tapi tetap saja saya bersyukur karena tidak perlu ganti topik lagi 😀

Di semester 5 juga bertepatan dengan wisuda Oktober, dimana hampir seperempat atau setengah angkatan saya lulus. Sedih-sedih gimana gitu. Gombal.

Pada momen wisuda tersebut, kami teman-teman yang belum lulus (senasib tapi beda-beda tipis) membuat video kenang-kenangan untuk mereka. Video tersebut dibuat oleh anak-anak lab air ++ yang kemudian kami sebut sebagai Lab Air Perdjoeangan.

Tak disangka, merekalah orang-orang yang memiliki peran besar dalam membantu kelulusan saya di ITB. Orang-orang yang dikenal tanpa sengaja, dengan karakter yang beragam tapi sama-sama sedikit gila, yang sebagian besar berkasus juga #eh, yang bertugas untuk saling “melecut” semangat satu sama lain. Sebetulnya proses akrab dengan mereka pun tak serta merta terjadi, butuh proses panjang, nge-lab saat weekend, sampai malam, bahkan sesekali menginap :\ Saya sih kayaknya baru beberapa kali doang. Hehe.

Here they are.

IMG-20180215-WA0034.jpg

WhatsApp Image 2018-05-09 at 5.25.29 PM

dscf4366.jpg

IMG-20180418-WA0014.jpg

Itu foto-foto di semester 6 sih 😀

**

Sebetulnya, hikmah yang saya dapatkan di semester ini adalah, dimanapun posisimu berada saat ini, walaupun itu tak sesuai rencana, bisa jadi kamu menemukan hal terbaik yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya. Toh, sesuatu yang tidak ditakdirkan milik kita, tak akan pernah jadi milik kita. Iya kan?

 

Semester 4 – S2 TL ITB

Pada kesempatan kali ini, saya akan bercerita perjalanan panjang penyelesaian studi saya di S2 TL ITB, yang diawali di Semester 4. Untuk para pembaca yang sudah membaca dari awal, mungkin ada yang sudah menunggu-nunggu kapan lanjutan ceritanya. Haha.

***

Jika boleh jujur, pada Semester 4 inilah saya mulai benar-benar mencurahkan segala daya dan upaya untuk mengerjakan tesis. Haha. Jangan ditiru. Berbekal nekat mencoba topik yang di luar bidang saya: sedikit hidrologi, agak sipil, dan berusaha manajemen, saya mencoba mengerjakan tesis ini. Topik tesis saya ini berasal dari ide polos, “Tidak ingin kerja di Lab, ingin di depan laptop saja, belajar software pemodelan, dan berusaha idealis untuk bisa menyelesaikan masalah di daerah tinggal saya”. Tapi nyatanya tidak sesederhana itu. Tak usah ditanya ya dulu judulnya apa. Haha.

Dengan berbekal kenekatan, drama-drama di belakang layar, pembimbing yang menyerahkan sepenuhnya pada saya apalagi karena saya baru memulai tesis setelah sekian lama, membuat saya mencari berbagai macam cara untuk menyelesaikan tesis ini. Dari mulai bertanya ke Professor di PUSAIR, berkunjung ke perpustakaan MPSDA yang seperti kurang terawat, dan bahkan menghubungi teman lama di SMA yang sudah tidak pernah dihubungi lagi hanya untuk bertanya tesis. Teman macam apa gue.

Proses pengerjaan tesis ini memerlukan data-data sekunder yang perlu didapatkan dari berbagai lembaga, seperti BPS di Soreang, BBWS Citarum di Soekarno-Hatta, PDAM di Cimahi, dengan sebelumnya melalui Bakesbangpol Bandung, Bakesbangpol Kabupaten, dan berbagai lembaga lain. Pengalaman ini cukup menarik dan melelahkan karena perlu bolak-balik akibat dihadapkan pada berbagai birokrasi yang ada. Tetapi dari segenap lembaga yang saya kunjungi, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jawa Barat adalah yang paling cepat dan mudah. Hehe. Pelajaran yang didapat adalah, mohon bersabar saja jika berkaitan dengan suatu lembaga. Nikmati saja perjalanannya. Setidaknya jadi jalan-jalan.

Singkat cerita, setelah mencoba menyusun draft, bersiap untuk seminar-1, hingga akhirnya mengajukan seminar-1. Terjadilah peristiwa menarik. Saat seminar-1 saya diminta ganti judul. Jeng jeng.

Iklan dulu.

Sebagai informasi, proses pengerjaan tesis di S2 Teknik Lingkungan terbagi menjadi beberapa tahapan:

  1. Pengajuan Uraian Garis Besar (UGB) Judul Tesis kepada tim Tesis. Pembuatan UGB ini dapat dilakukan oleh diri sendiri, yang artinya judul tesis berasal dari ide kita sendiri. Bisa juga dengan ide sendiri untuk kemudian didiskusikan dengan Dosen (yang diharapkan menjadi) Calon Pembimbing. Selain itu, bisa juga judul dan ide tesis berasal dari dosen itu sendiri yang biasanya merupakan bagian dari proyek penelitian dosen. Untuk tahu tentang proyek apa yang sedang dijalani dosen tersebut, penting bagi kita untuk ngobrolngobrol terlebih dahulu dengan dosen tersebut.
  2. Tahap Pengumuman hasil UGB. Tahap ini berupa pengumuman dengan beberapa jenis status:
  • Judul diterima, lanjut ke proposal dengan nama pembimbing yang sudah diputuskan tim tesis.
  • Perbaikan bagian blablabla, perlu revisi, tapi tetap disetujui dengan nama pembimbing yang sudah ditetapkan.
  • Dan yang agak “beruntung” adalah, perlu revisi dan presentasi UGB. Nah dulu saya mendapatkan hasil bahwa saya harus presentasi UGB. Mungkin karena topik saya tidak jelas. Haha. Tapi sayangnya saat itu saya tidak ikut karena harus berangkat Summer School. Alhasil saya disuruh untuk menghadap salah satu tim tesis sebelum berangkat, dan tiba-tiba berujung beliau menjadi pembimbing saya.
  1. Pengumpulan proposal dan mendapatkan surat tugas. Surat tugas ini akan diperlukan untuk kasus-kasus tertentu. Misal ke perusahaan, lembaga, dan sebagainya.
  2. Seminar-1 atau seminar metodologi. Proses seminar-1 akan dapat dilalui sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh pembimbing. Namun default-nya, jika metodologi kita sudah jelas, dan sudah ada hasil tesis kita walaupun sedikit, kita sudah bisa mengajukan untuk seminar-1. Penetapan jadwal seminar bebas tergantung kesepakatan dengan pembimbing. Durasi seminar 1 jam, dengan fokus pada mempertajam metodologi.
  3. Seminar-2. Sudah terjadwal oleh prodi. Seminar menggunakan Bahasa Inggris. Presentasi hasil hanya dalam 15 menit. Tidak semua hasil tesis perlu ditampilkan. Seminar-2 juga semacam latihan konferensi kecil-kecilan. Bahkan ada kategori best poster dan best presenter.
  4. Sidang. Yang terasa menakutkan bagi sebagian kalangan. Hal ini disebabkan cukup banyak cerita-cerita gagal sidang, tidak diluluskan, sidang dua kali, sidang tiga kali, bahkan ada yang sampai dinyatakan tidak lulus Mater selamanya. Namun, itu kasus khusus yang biasanya berkaitan dengan plagiarisme.
  5. Revisi dan urusan administrasi lainnya…. hingga akhirnya wisuda.

Sederhana bukan?

Ya nyatanya tidak sederhana bagi sebagian orang, termasuk saya.

Pada seminar-1 saya dinyatakan harus ganti judul, ganti topik total, mulai dari awal lagi. Alasannya karena saya tidak menguasai betul topik yang saya ajukan dan terlalu berpikir melebar jauh dari bidang S1 saya yaitu Kimia. Keluar ruang seminar dengan perasaan campur aduk. Haha.

Setelah hari itu, saya pun harus mencari kembali judul tesis. Mulai dari diskusi dengan penguji seminar-1, baca-baca koran untuk mencari tahu topik terbaru saat ini, dan membaca berbagai jurnal. Cukup tertekan juga, karena harus memulai semua dari awal lagi, yang membuat lulus Juli dan Oktober menjadi tidak mungkin.

Sempat berpikir untuk meneliti tentang banjir di Rancaekek, pencemaran padi di Rancaekek, hingga Ecosystem service Teras Cikapundung. Sangat random. Namun, pola pikir saya yang berpikir kemana-mana ini kemudian diberikan sedikit wejangan oleh penguji saya dahulu.

Beliau berpesan kurang lebih seperti ini, “Kita tidak bisa menyelesaikan permasalahan lingkungan seorang diri. Perlu berbagai praktisi, ahli dari berbagai bidang, perlu ahli hidrologi, perlu ahli biologi, perlu ahli hukum, perlu ahli perencanaan kota, dan sebagainya. Untuk mengerjakan tesis ini, kita perlu berpikir spesifik, fokus pada satu masalah, dan menyelesaikannya sesuai potensi yang kita miliki. Waktu kita terbatas untuk mengerjakan tesis ini, apalagi untuk jenjang Master.”

Pernyataan tersebut cukup menohok saya, yang memang sejak dulu sebelum masuk kuliah serasa ingin menyelesaikan permasalahan lingkungan yang ada. Mungkin terkesan egois dan sok pintar. Tapi nyatanya penyelesaian masalah lingkungan memang tidak sesederhana itu.

Setelah itu, saya mencari-cari kembali topik tesis. Berusaha menyeimbangkan antara idealistis dan berusaha realistis. Setelah membaca sekian banyak jurnal dengan topik water, pollution, management, chemistry, dan sebagainya, saya menemukan topik: microplastic.

Topik yang menarik, rasanya ada kimia-kimianya, dan ketika saya cek ternyata belum banyak yang meneliti ini. Akhirnya saya pun menyusun topik tentang ini, dan mencoba mengajukan ke pembimbing saya dahulu. Setelah drama-drama, beliau pun menyarankan untuk bertemu dosen lain dengan topik serupa, biodegradable plastic. Saya mengernyitkan dahi, rasanya bukan ini yang saya maksud. Saya tidak ingin berurusan dengan mikroba-mikroba. Hingga akhirnya saya menghadap dosen lain tersebut dengan tetap membawa topik yang saya pilih sejak awal, mikroplastik.

Agak sedikit cemas akan ditolak lagi topiknya, Alhamdulillah, tanpa disangka, ternyata beliau memang sedang ingin meneliti topik mikroplastik. Sebuah kebetulan yang saya yakin bukan kebetulan. Beliau bahkan mencoret-coret draft yang saya bawa dan saya serasa mendapatkan pencerahan. Alhamdulillah akhirnya dapat topik juga. Rasanya ini jauh-jauh lebih senang dibanding ketika selesai sidang 😀 Pada akhirnya beliau juga menjadi dosen pembimbing saya.

***

Tanpa terasa berakhirlah Semester 4, dengan judul yang baru diterima, tambahan dosen pembimbing baru, dan tentu semangat baru. Perjalanan tesis (baru) dimulai (kembali). Kisah masih berlanjut di Semester 5, bahkan Semester 6. Saya belajar banyak dari Semester 4, belajar dari kesalahan diri, belajar menerima kekurangan dan kelebihan diri, dan menemukan bahwa selalu ada hikmah dari setiap peristiwa.

Sebetulnya, banyak teman saya yang mengalami cerita-cerita “menarik” lainnya seputar tesis, bahkan jauh lebih “menarik”. Mungkin Anda juga?

Cerita dalam Gambar

Kumpulan caption instagram yang agak sedikit berfaedah.

***

IMG_20161012_141142

Paris, kota yang kerasa banget orang-orangnya lebih stylist dalam berpakaian (dari anak muda – sampai bapak ibu tampilannya kece-kece) ternyata paling banyak muslimnya di Perancis.
.
Di Vitry-sur-Seine, 7.5 km dari pusat kota Paris, toko-toko halal berjejer kayak indomart alfamart, mbak-mbak kerudungan lalu lalang dimana-mana, serasa bukan di negeri orang.
.
Ternyata Perancis jumlah muslimnya termasuk yang paling besar di Uni Eropa. Ya beda dikit lah dengan Jerman.
.
Dan voila, inilah masjid terbesar di Perancis. Tenang, jauh dari hiruk-pikuk Eiffel.
#cmiiw
#backpacker ala ala
#summerschool
#muslim #paris #france #mosque

========================================================

IMG_20161111_064542

Berawal dari bertanya apakah ada “praying room” di kampus, dan beliau menjawab “iya nanti bareng saya saja, saya juga kesana.”
.
Mulai bertanya-tanya maksudnya bareng gimana. Ketika sudah di mushola, ternyata beliau ikut shalat juga! Alhamdulillah, beliau muslim… dan bisa bahasa Indonesia dgn lancar :”)
.
Kamahara sensei, dari Environmental and Life Science Department, salah satu committe, muslim, bisa bahasa Indonesia, punya istri orang Indonesia, bahkan utk hari Jum’at beliau bilang akan menemani kami ke masjid dengan mobil utk shalat Jum’at. Alhamdulillah… just unpredictable ketemu muslim Jepang disini.
.
.
Yang jelas, jangan lupa #supportAdiwidya and #youmustjoin
.
#loh
.
Adiwidya 4 Pascasarjana, 4 Desember 2016, Aula Timur ITB
.
@kamilpascasarjanaitb .
#muslim #japan #toyohashi #tut #exchange

==================================================================

IMG_20170205_091530_062

“Precipitation”
Menurut orang kimia artinya pengendapan, sedangkan menurut orang hidrologi artinya hujan
.
Adakah yg salah?
.
Tidak ada. Itu hanya bukti sederhana bahwa suatu hal bisa memiliki pengertian yang berbeda bergantung latar belakang yang dimiliki.
.
Salah adalah ketika kita menggunakannya di tempat yang tidak seharusnya.
.
Salah adalah ketika saling menyalahkan karena memiliki definisi yang berbeda.
.
Mungkin karena kita belum saling tahu, maka kita saling menyalahkan.
.
Mungkin karena kita hanya punya sedikit ilmu
.
.
.
#renungan #ntms #panjangbener #tumben
.
#bungaditepijalan #alangkahindahnya #ditengahjalandeng #bandung #fake #flowers

=============================================================

IMG_20170404_085834_662

Awal-awal dapat info Ustadz Zakir Naik ke UPI, langsung daftar aja tanpa pikir panjang. “Yang penting daftar dulu, datang apa ngga belakangan.”
Eh, alhamdulillah dapat tiket.

Sebenernya, saya juga sangat-sangat jarang nonton video beliau di youtube. Tapi karena melihat animo masyarakat yang luar biasa, jadi penasaran. Bahkan di hari H, masih galau jadi datang apa ngga. Tapi kalau gak datang, nanti menyakiti hati ribuan orang yang gagal daftar. Hea. Jadilah saya datang, walaupun sempat terhambat masuk karena barcode tiket invalid. Haha.

Setelah datang, ternyata……. “It was freakingly awesome!”
Ceramahnya membuka mindset kita tentang hal yang selama ini tidak terpikirkan. #guesih

Saya sangat merekomendasikan bagi teman-teman yang masih bisa dapat tiket “live” di daerah masing-masing, Bekasi, Makassar, dll, usahakan datang langsung!
Karena sensasinya sangat berbeda ketika datang langsung.
Bagi yang memiliki pertanyaan dan kegelisahan dalam keyakinannya selama ini, atau ingin mempertanyakan Islam itu mengapa begini-mengapa begitu, bisa langsung disampaikan pada beliau.

Untuk yang tidak berkesempatan, minimal sekali seumur hidup lha pernah nonton videonya. Hehe.

Dan saya jadi sadar bahwa tiap ustadz memang punya kapabilitasnya masing-masing. Saya jadi terbayang akan betapa kerennya ketika ulama-ulama internasional lain juga datang ke Indonesia, misalnya Nouman Ali Khan, Yasir Qadhi, dan yang lainnya. Hopefully someday. .
.
Jazakumullah khairan katsiran panitia! Meskipun ada drama-drama translation problem saat tanya-jawab, tapi totally acaranya sangat keren 🙂 .
.
#zakirnaikvisitbandung #zakirnaik #indonesia #youmustsee #youshouldcome #yesyou #yukngaji #yukngelingker #latepost

==========================================================================

IMG_20170506_220724_570

Nouman Ali Khan, salah satu da’i internasional masa kini, ternyata dulu pernah berada pada kondisi tak tertarik dengan islam sama sekali, bahkan dia meninggalkan shalat selama 4 tahun. .
.
Lalu kapan dia shalat lagi?
.
.
.
.
Jadi, waktu jaman kuliah, dia punya temen hang-out bareng yg seneng nraktir pizza dan punya mobil yg bagus. Ketika lagi di perjalanan bareng temennya ini, dan lagi di mobil, waktu bentrok maghrib. Si temennya izin mau shalat maghrib. Padahal temennya ga ngajak dia shalat, tapi ya jadilah dia ikut shalat jg krn ga enak.
.
.
Dan itulah saat Ustad Nouman shalat lagi setelah meninggalkan shalat selama 4 tahun.
.
.
Hikmahnya?
Temukan sendiri. Hehe
.
.
Sumber: video youtube NAK down under
.
.
In frame: pengurus kamil taun lalu yg lagi maen

====================================================================

IMG_20170606_215838_190

Dalam hidup seringkali kita dihadapkan pada sesuatu yang tidak sesuai keinginan kita, kita mempertanyakan mengapa begini-mengapa begitu.
.
Ketika kita sedang “sadar” mungkin kita akan langsung tersenyum manis dan mengatakan “InsyaAllah, ini yang terbaik.” .
.
Tapi tak jarang, bahkan seringkali, kita mengalami berbagai macam kondisi psikis terlebih dahulu untuk mencapai kesimpulan itu. .
.
Tak mudah. Tak instan.
.
Tapi yang jelas.. Jika dalam proses pemahaman itu kita merasa tak ada orang yang mengerti apa yang kita rasakan. Sungguh, Allah tahu apa yang kita rasakan. Allah tahu yang kita pikirkan.
.
Ceritakan saja pada Allah, tak apa untuk menumpahkan semua kegelisahanmu pada Allah. Hanya Allah yang benar-benar mengerti apa yang kamu rasakan.
.
.
.
.
.
ditulis sebagai pengingat diri sendiri ketika tidak sadar.
Btw udah malam 12 #ramadhan, udah ngapain aja lu lam 😦

============================================================================

IMG_20170610_070536_472

Kadang malu .
.
Ada orang yang dalam rangka memaksimalkan ibadah ramadhan sampai left hampir semua grup, atau mungkin tidak left tapi “hanya” mematikan koneksi internetnya // sepertinya mau benar-benar fokus ibadah ya
.
Ada juga yang sebaliknya, yang justru makin aktif kesana-kemari. Ada yang buat notulensi tiap ceramah ramadhan yang dia ikuti, lalu dishare di hampir semua grup. Ada yang rutin berbagi santapan buka di jalanan, jadi panitia ramadhan, dan sebagainya // fokus ibadah juga, tapi sepertinya targetnya adalah untuk menebar kebermanfaatan
.
.
Sedih ketika melihat mereka begitu serius di ramadhan ini, sedang kita masih gini-gini aja 😦
.
Masih sempat nonton series, masih sempat nonton film, masih sempat main game, masih sempat buka sosmed, yang mungkin bisa berjam-jam ga kerasa 😦
.
Mungkin sulit ya, tapi setidaknya mari sama-sama berusaha untuk “kurang-kurangi” yang sebaiknya “dikurangi” .
.
Karena ramadhan adalah sarana latihan perbaikan diri :”)
.
Karena tak ada yang jamin bisa bertemu lagi 😦
.
Note to myself
.
15 #ramadhan .
.
In frame: ilustrasi orang yang “ngebut” dengan fotografer “selow”

==============================================================

IMG_20170824_200903_881

Dulu jaman-jaman ngebet ke yurop, denger ada kuliah kapsel (kapita selekta) online yang kerja sama itb sama universitas Jerman, Iran, dan Mesir, jadi langsung pengen ikutan.

Malah sampai kepikiran, “Siapa tau ada kuliah lapangannya gitu kan misalnya? Ke Jerman gitu? Full akomodasi. Kan lumayan.” Haha.
Duniawi banget ya gue. Hiks.

Bahkan saking ngarepnya, grup kelas kapsel saya kasih nama “Road to Germany Soon”, dengan ikon grup gerbang Brandenburg yang di Berlin. Wkwk.
Ngarep abis.

Walaupun hingga ujung kuliah kapsel berakhir, harapan utk kunjungan lapangan mulai sirna. Ternyata eh ternyata, alhamdulillah atas karunia Allah, di semester berikutnya kesampaian ke Jerman (dari program lain sih bukan kapsel), bahkan bertemu dengan salah satu lecturer yg ada di kuliah kapsel. #terharu

Namanya Prof-Ing. André Niemann, salah satu quotes beliau itu “There is no general solution. There is no short solution”. Bahwasanya tiap negara punya permasalahan air yang berbeda, maka water management yg perlu diterapkan pun akan berbeda.
Gara-gara itu juga, sempat pengen jadi Water Manager ala-ala dan mau tesis tentang itu. Tapi ya takdir berkata lain (yang lebih baik, insyaAllah amin). .
.
Meskipun kuliah kapsel ini ga ada kunjungan lapangan ke Jerman, tapi setidaknya pengalaman ikut kuliah online ini bisa jadi “bumbu” utk motivation letter kan. Hehe..
.
*** .
Jadi, untuk anak-anak TL yg masih kuliah, jangan ragu ambil kuliah kapsel. Kuliah online itu, nyantai, dulu kami generasi pertama (yang cuma berenam) memang agak gak jelas sih. Wkwk. Tapi seharusnya sekarang lebih baik.
Bahkan skrg magister jurusan lain juga bisa ambil lho. Silakan dtg ke TU S2 TL utk info lebih lanjut.

#kapitaselekta #sustainable #water #dialogue #oldstories #alhamdulillah #throwback
#promo #kuliah #karena #sepi #peminat #haha #sedih

Judul yang dibuat bombastis mengikuti media mainstream saat ini. Hehe.

***

Pertama kali diajak umroh sebetulnya saya ragu, muncul perasaan seperti “Siap kah? Ntar gimana ya? Waduh ntar aja deh”, dan sebagainya. Namun, ketika manasik, salah seorang ustadz bilang bahwa kebanyakan orang yang takut untuk umroh itu karena dosa. Ya, orang-orang yang banyak dosa yang takut langsung Allah balas di Mekkah. Tapi ustadz tersebut meyakinkan, “Mengapa Allah ‘hanya’ mau membalas dosa kita ketika di Mekkah? Bukankah Allah bisa dengan mudah membalas dosa kita di sini?” Dan statement itu pun membuat saya berpikir, “Iya juga ya.” Serta merta, ketakutan untuk berangkat itu pun sedikit berkurang. Ya wajar lah saya takut, ku makhluk penuh dosa begini 😦

***

Sebagai informasi, ibadah umroh itu sederhananya terdiri dari berihram di miqot, thawaf, sa’i, dan tahallul (sekitar 2 – 3 jam saja durasi thawaf hingga tahallul). That’s it. Very simple. Sisanya kalau melihat umroh yang sampai berminggu-minggu, itu hanya tambahan saja untuk memperbanyak ibadah maupun ziarah.

Untuk membuat artikel ini semakin simple ala-ala hip***, saya paparkan 9 hal tak terlupakan ketika melaksanakan umroh pada akhir Ramadhan dan Syawal.

  1. Buka puasa disediakan jamaah dan panitia

Pertama kali buka puasa di sana pada saat 28 Ramadhan, berangkat sore hari dengan kondisi masih panas terik. Keadaan sangat haus dan lemas. Duduk di masjid setengah sadar. Bahkan sampai baca quran tidak ada suaranya. Haha. Datang dengan tangan kosong, tetapi diberi jamaah yang berlomba-lomba membagikan makanan (dari mulai kurma, roti cane/canai/maryam, air zamzam dingin, kopi arab, dan snack). Alhamdulillah banget, pertama kalinya buka puasa merasa sangat bersyukur. Berasa akhirnya ya Allah adzan juga. *adzan maghrib sekitar jam 7 malam, tapi terasa begitu lama.

IMG20170623185659

makanan yang didapat

IMG20170623173911

kondisi di selasar luar masjid

IMG20170623190628

kondisi bagian dalam masjid

Sistemnya itu akan ada orang yang menggelar plastik panjang yang menutupi shaf tempat sujud. Kemudian orang-orang akan menaruh kurma, roti, dll di masing-masing tempat orang. Banyak juga orang yang membagikan air (jus, susu, kopi, zamzam) sembari berkeliling membawa teko, atau membagikan kurma dan makanan lain bagi orang yang masih thawaf, atau berlalu lalang mencari shaf.

  1. Shalat Tarawih yang berkesan

Saya lupa-lupa ingat berapa jumlah rakaatnya. Yang jelas dua rakaat salam-dua rakaat salam, dengan bacaan yang ringan. Maksudnya satu surat langsung ruku’, atau dua surat lalu ruku’. Tidak lama berdiri, walaupun secara total 1 juz tarawihnya (saat itu juz 30 di malam 29 Ramadhan). Oh ya, dari satu shalat tarawih (yang dua rakaat) ke dua rakaat berikutnya, jedanya hanya sangat sebentar. Jadi, jika kita gunakan jeda untuk minum saja, sudah keburu takbir lagi imamnya. Tarawih selesai sekitar jam 11 atau 11.30 (isya sekitar jam 9). Ba’da tarawih ada selang sekitar satu jam atau dua jam, kemudian dimulai shalat qiyamul lail lagi. Nah jika qiyamul lail, baru dengan berdiri yang lama.

Sebetulnya, yang sangat berkesan adalah suara bacaan imam yang merdu. Ketika Anda pernah mendengar suara imam Sudais, atau Maher, dan imam-imam lainnya di mp3 murottal dari laptop. Saat ini Anda mendengarnya langsung alias live. Bukankah itu priceless :”) Akan sangat indah lagi jika kita sudah familiar dengan banyak murattal imam masjidil haram, sehingga tidak bingung siapa yang sedang jadi imam.

 

  1. Lebaran tetap ramai!

Menurut beberapa orang, akan sepi lebaran di Mekkah. Ah menurut saya tidak juga. Ramai kok. Selesai isya, semua orang langsung berhamburan. Bahkan ada yang sudah cipikacipiki ied Mubarak. Belum terdengar suara takbiran dari pengeras suara, tapi beberapa orang secara individu sudah mulai melantunkan kalimat takbir. Saya dalam hati: Jadi, besok syawal nih? Fix lebaran? :”)

Suara takbiran baru mulai bergema ba’da shubuh. Langsung haru rasanya. Shalat ied pun dimulai sekitar pukul 6 pagi. Setelah itu, ada ceramah ied yang saya bisa dengar translation-nya via radio. Ada petugas khusus translation juga yang berkeliling membawa earphone gratis.

Ba’da ceramah, orang-orang berhamburan keluar, terlihat saling salam dan berpelukan. Toko-toko langsung ramai, apalagi tempat makanan. Jalanan sangat macet. Ramai sekali.

IMG20170624215132  IMG20170625065239

IMG20170625070617  IMG20170625071008 IMG20170625071450

 

  1. Perbedaan budaya

Shock culture mungkin akan terjadi di negara yang kita kunjungi dimana pun itu. Tapi ketika di Mekkah dengan seluruh muslim dari berbagai belahan dunia muncul, sulit untuk membedakan orang ini berasal dari daerah atau negara mana. Sehingga saya tidak tahu, perilaku orang yang membuat shock ini berasal dari negara mana. Misalnya, ketika seseorang permisi mau lewat dari satu shaf ke shaf di depannya, jika di Bandung, umumnya orang akan bilang “punten”, atau menjulurkan tangan di antara dua orang, atau memegang bahu orang yang akan dilewati. Tapi sering yang saya alami adalah, orang yang permisi justru memegang kepala kita. Haha. Kepala. Pertama kali saya kaget, kayak “What?” Tapi ternyata itu tidak terjadi pada kepala saya saja, kepala orang lain juga mengalami hal yang sama.

Shock culture yang lain adalah ketika melihat orang lain marah. Terkadang orang yang salah, malah justru dia yang marah. Misalnya ada seseorang menyenggol orang lain, dan yang menyenggol yang menurut saya pihak yang salah karena dia bawa barang rempong jadi nabrak orang lain, tapi malah dia yang sewot marah-marah. Bingung kan?

Ada lagi flash back saat di imigrasi. Antrian yang sangat panjang dari orang-orang yang lelah dan letih setelah perjalanan panjang harus menghadapi petugas imigrasi yang “santai”. Para petugas imigrasi masih bisa melayani kita sambil menelefon orang lain, chit chat lama dengan petugas lain, ketawa-ketiwi di hadapan antrian manusia yang sudah seperti orang mau demo. “Hello ada orang disini.” Sepertinya mereka juga lelah dan sudah kebal (?) Ntahlah.

Ada juga budaya menarik lain, yaitu semangat menasihati orang lain tanpa sungkan. Jadi suatu siang di dalam masjid, ada orang-orang sedang mengobrol. Mereka sepertinya membicarakan seputar kondisi perpolitikan negaranya masing-masing. Tiba-tiba ada seseorang datang pada mereka, mengucap salam, pembuka sejenak, lalu membacakan hadits (?) tentang keutamaan berdzikir. Kemudian orang itu pun pergi. Orang-orang pun tersenyum.

Saya pun pernah mengalami langsung. Ketika saya memakai gelang tanda pengenal jamaah umroh yang berwarna oranye mencolok, seseorang di sebelah saya menegur saya, mengucap salam, dan lalu bilang “haram” sambil menunjuk gelang yang saya pakai. Lalu saya tunjukkan kalau gelang ini ada tulisan “keterangan jamaah umroh dst” lalu dia menunjukkan ekspresi “okay” dan meminta saya untuk menggunakan bagian gelang yang terlihat tulisannya.

  1. Dari jilbab yang “asal clek” dengan tangan siku masih kelihatan, sampai yang jilbab menutup seluruh tubuh (include wajah dan mata) ada di sini

Mungkin yang jilbabnya masih pada kelihatan tangan sampai sikunya itu bawa mukena juga. Hehe. Tapi yang jelas, ada sangat banyak perbedaan terjadi di Mekkah. Perkara lain yang berbeda dari mulai cara takbir, posisi tangan saat i’tidal, posisi kaki saat tahiyat, gerakan telunjuk saat tahiyat, dan sebagainya.

  1. Banyak simbol mata satu

Tidak banyak sebetulnya, hanya saja logo ini dipakai oleh kepolisian -yang mana- polisi ada dimana-mana, sehingga membuat mata satu itu ada dimana-mana. Entahlah mungkin saya cuma paranoid.

IMG20170624113245   img20170625065745.jpg

  1. Tukang dagang yang jago berbagai bahasa

Kalau ada tampang melayu Indonesia lewat, dia nyaut Bahasa Indonesia. Kalau orang wajah-wajah Pakistan, dia akan bicara urdu. Kalau ada orang Turki, dia bicara Bahasa Turki. Ini saya nebak aja sih. Karena tidak bisa membedakan bahasa. Haha. Yang jelas para pedagang bisa berbagai bahasa.

  1. Suasana Mekkah dengan spiritual tinggi, suasana Madinah sendu ngangenin

Tak bisa dipungkiri suasana Mekkah memang sangat luar biasa. Ketika melihat orang thawaf, atau melihat orang yang berusaha untuk mencium hajar Aswad, shalat di Hijr Ismail atau di belakang Maqam Ibrahim, atau melihat orang yang berdo’a begitu lama (saya lihat ada yang sampai 30 menit mengangkat tangan untuk berdo’a sambil berdiri), melihat semua itu kadang membuat hati sedih. Membuat diri merasa masih jauuuuh rasanya dari taat, membuat diri merasa hina, butiran debu is real lah. Malu rasanya.

IMG20170626162212

Pun di Madinah, yang lebih saya rasakan adalah rasa rindu orang-orang terhadap Rasulullah SAW dan para sahabat. Ketika melalui makam Nabi dan para sahabat banyak orang yang berhenti sejenak dan berdo’a. Ah sedih. Apalagi membayangkan juga dulu bagaimana persaudaraan Muhajirin dan Anshar yang begitu melegenda terjadi di Madinah. Semua tempat memiliki cerita masing-masing.

IMG20170702055609 IMG20170630165059

  1. Tak bisa Bahasa Arab membuat merasa terasing

Bagaimana tidak? Percakapan dimana-mana hampir selalu terdengar Bahasa Arab. Seorang jamaah pun pernah menegur saya dan bertanya asal dari mana, kemudian dia bertanya “Speak Arabic?” dan saya hanya bisa menjawab “No.” Pembicaraan pun kikuk 😦

***

Ah sebetulnya masih banyak lagi keseruan yang terjadi. Seperti petugas masjidil haram dengan berbagai seragamnya, “mengerikannya” gedung-gedung pencakar langit di sekitar masjidil haram yang makin banyak, hitsnya al-baik chicken, perpustakaan masjidil haram, tempat-tempat bersejarah di Mekkah-Madinah, exhibition di seputar Masjid Nabawi yang seru, dan lain sebagainya. Tapi rasanya ini sudah terlalu panjang. Haha.

***

Kembali lagi ke ketakutan untuk umroh, ternyata bukan saya saja yang mengalaminya. Ada banyak di Indonesia yang juga terjangkit sindrom ini. Seorang jamaah pernah bercerita pada saya, beliau seorang bapak yang cukup tua, dia juga pernah tidak berniat untuk umroh. Bahkan menurutnya, karena dia tidak niat-niat, booking umroh yang dilakukan anaknya tak kunjung tembus. Selalu ada masalah sehingga gagal berangkat. Namun ketika dia mulai berniat, maka Alhamdulillah diizinkan berangkat. Beliau pun bertutur bahwa dia bahkan sudah lupa cara baca huruf arab. Tetapi ketika di Mekkah dia jadi ingat lagi Alhamdulillah.

Tentang niat, bapak itu pun berpesan: Niatkan dulu saja untuk berangkat umroh, untuk haji. InsyaAllah ada jalan. Buktinya banyak kisah orang-orang “tidak mampu” yang justru Allah mampukan dengan jalan tidak terduga. Jangan sebaliknya, sudah punya kemampuan harta, bahkan sudah meng-umroh-kan atau meng-haji-kan saudara-saudaranya. Tetapi ketika diajak berangkat, selalu berkata, “Saya belum siap. Pokoknya belum siap.” Dia bilang, ada lho orang yang seperti ini. Bukankah itu ironi 😦

Jadi, yuk sama-sama niatkan untuk berangkat.
Ketika saya takut berangkat pun malah bertemu dengan berbagai keseruan dan ketakjuban, apalagi jika Anda berangkat dengan niat dan persiapan yang matang :”)

Semoga Allah memudahkan jalan kita semua 🙂

===

Ditulis sebagai penyemangat bagi diri sendiri, dan semoga bermanfaat bagi pembaca.

Syawal 1438 H

%d bloggers like this: