Semester 4 – S2 TL ITB

Pada kesempatan kali ini, saya akan bercerita perjalanan panjang penyelesaian studi saya di S2 TL ITB, yang diawali di Semester 4. Untuk para pembaca yang sudah membaca dari awal, mungkin ada yang sudah menunggu-nunggu kapan lanjutan ceritanya. Haha.

***

Jika boleh jujur, pada Semester 4 inilah saya mulai benar-benar mencurahkan segala daya dan upaya untuk mengerjakan tesis. Haha. Jangan ditiru. Berbekal nekat mencoba topik yang di luar bidang saya: sedikit hidrologi, agak sipil, dan berusaha manajemen, saya mencoba mengerjakan tesis ini. Topik tesis saya ini berasal dari ide polos, “Tidak ingin kerja di Lab, ingin di depan laptop saja, belajar software pemodelan, dan berusaha idealis untuk bisa menyelesaikan masalah di daerah tinggal saya”. Tapi nyatanya tidak sesederhana itu. Tak usah ditanya ya dulu judulnya apa. Haha.

Dengan berbekal kenekatan, drama-drama di belakang layar, pembimbing yang menyerahkan sepenuhnya pada saya apalagi karena saya baru memulai tesis setelah sekian lama, membuat saya mencari berbagai macam cara untuk menyelesaikan tesis ini. Dari mulai bertanya ke Professor di PUSAIR, berkunjung ke perpustakaan MPSDA yang seperti kurang terawat, dan bahkan menghubungi teman lama di SMA yang sudah tidak pernah dihubungi lagi hanya untuk bertanya tesis. Teman macam apa gue.

Proses pengerjaan tesis ini memerlukan data-data sekunder yang perlu didapatkan dari berbagai lembaga, seperti BPS di Soreang, BBWS Citarum di Soekarno-Hatta, PDAM di Cimahi, dengan sebelumnya melalui Bakesbangpol Bandung, Bakesbangpol Kabupaten, dan berbagai lembaga lain. Pengalaman ini cukup menarik dan melelahkan karena perlu bolak-balik akibat dihadapkan pada berbagai birokrasi yang ada. Tetapi dari segenap lembaga yang saya kunjungi, Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Jawa Barat adalah yang paling cepat dan mudah. Hehe. Pelajaran yang didapat adalah, mohon bersabar saja jika berkaitan dengan suatu lembaga. Nikmati saja perjalanannya. Setidaknya jadi jalan-jalan.

Singkat cerita, setelah mencoba menyusun draft, bersiap untuk seminar-1, hingga akhirnya mengajukan seminar-1. Terjadilah peristiwa menarik. Saat seminar-1 saya diminta ganti judul. Jeng jeng.

Iklan dulu.

Sebagai informasi, proses pengerjaan tesis di S2 Teknik Lingkungan terbagi menjadi beberapa tahapan:

  1. Pengajuan Uraian Garis Besar (UGB) Judul Tesis kepada tim Tesis. Pembuatan UGB ini dapat dilakukan oleh diri sendiri, yang artinya judul tesis berasal dari ide kita sendiri. Bisa juga dengan ide sendiri untuk kemudian didiskusikan dengan Dosen (yang diharapkan menjadi) Calon Pembimbing. Selain itu, bisa juga judul dan ide tesis berasal dari dosen itu sendiri yang biasanya merupakan bagian dari proyek penelitian dosen. Untuk tahu tentang proyek apa yang sedang dijalani dosen tersebut, penting bagi kita untuk ngobrolngobrol terlebih dahulu dengan dosen tersebut.
  2. Tahap Pengumuman hasil UGB. Tahap ini berupa pengumuman dengan beberapa jenis status:
  • Judul diterima, lanjut ke proposal dengan nama pembimbing yang sudah diputuskan tim tesis.
  • Perbaikan bagian blablabla, perlu revisi, tapi tetap disetujui dengan nama pembimbing yang sudah ditetapkan.
  • Dan yang agak “beruntung” adalah, perlu revisi dan presentasi UGB. Nah dulu saya mendapatkan hasil bahwa saya harus presentasi UGB. Mungkin karena topik saya tidak jelas. Haha. Tapi sayangnya saat itu saya tidak ikut karena harus berangkat Summer School. Alhasil saya disuruh untuk menghadap salah satu tim tesis sebelum berangkat, dan tiba-tiba berujung beliau menjadi pembimbing saya.
  1. Pengumpulan proposal dan mendapatkan surat tugas. Surat tugas ini akan diperlukan untuk kasus-kasus tertentu. Misal ke perusahaan, lembaga, dan sebagainya.
  2. Seminar-1 atau seminar metodologi. Proses seminar-1 akan dapat dilalui sesuai dengan syarat dan ketentuan yang ditetapkan oleh pembimbing. Namun default-nya, jika metodologi kita sudah jelas, dan sudah ada hasil tesis kita walaupun sedikit, kita sudah bisa mengajukan untuk seminar-1. Penetapan jadwal seminar bebas tergantung kesepakatan dengan pembimbing. Durasi seminar 1 jam, dengan fokus pada mempertajam metodologi.
  3. Seminar-2. Sudah terjadwal oleh prodi. Seminar menggunakan Bahasa Inggris. Presentasi hasil hanya dalam 15 menit. Tidak semua hasil tesis perlu ditampilkan. Seminar-2 juga semacam latihan konferensi kecil-kecilan. Bahkan ada kategori best poster dan best presenter.
  4. Sidang. Yang terasa menakutkan bagi sebagian kalangan. Hal ini disebabkan cukup banyak cerita-cerita gagal sidang, tidak diluluskan, sidang dua kali, sidang tiga kali, bahkan ada yang sampai dinyatakan tidak lulus Mater selamanya. Namun, itu kasus khusus yang biasanya berkaitan dengan plagiarisme.
  5. Revisi dan urusan administrasi lainnya…. hingga akhirnya wisuda.

Sederhana bukan?

Ya nyatanya tidak sederhana bagi sebagian orang, termasuk saya.

Pada seminar-1 saya dinyatakan harus ganti judul, ganti topik total, mulai dari awal lagi. Alasannya karena saya tidak menguasai betul topik yang saya ajukan dan terlalu berpikir melebar jauh dari bidang S1 saya yaitu Kimia. Keluar ruang seminar dengan perasaan campur aduk. Haha.

Setelah hari itu, saya pun harus mencari kembali judul tesis. Mulai dari diskusi dengan penguji seminar-1, baca-baca koran untuk mencari tahu topik terbaru saat ini, dan membaca berbagai jurnal. Cukup tertekan juga, karena harus memulai semua dari awal lagi, yang membuat lulus Juli dan Oktober menjadi tidak mungkin.

Sempat berpikir untuk meneliti tentang banjir di Rancaekek, pencemaran padi di Rancaekek, hingga Ecosystem service Teras Cikapundung. Sangat random. Namun, pola pikir saya yang berpikir kemana-mana ini kemudian diberikan sedikit wejangan oleh penguji saya dahulu.

Beliau berpesan kurang lebih seperti ini, “Kita tidak bisa menyelesaikan permasalahan lingkungan seorang diri. Perlu berbagai praktisi, ahli dari berbagai bidang, perlu ahli hidrologi, perlu ahli biologi, perlu ahli hukum, perlu ahli perencanaan kota, dan sebagainya. Untuk mengerjakan tesis ini, kita perlu berpikir spesifik, fokus pada satu masalah, dan menyelesaikannya sesuai potensi yang kita miliki. Waktu kita terbatas untuk mengerjakan tesis ini, apalagi untuk jenjang Master.”

Pernyataan tersebut cukup menohok saya, yang memang sejak dulu sebelum masuk kuliah serasa ingin menyelesaikan permasalahan lingkungan yang ada. Mungkin terkesan egois dan sok pintar. Tapi nyatanya penyelesaian masalah lingkungan memang tidak sesederhana itu.

Setelah itu, saya mencari-cari kembali topik tesis. Berusaha menyeimbangkan antara idealistis dan berusaha realistis. Setelah membaca sekian banyak jurnal dengan topik water, pollution, management, chemistry, dan sebagainya, saya menemukan topik: microplastic.

Topik yang menarik, rasanya ada kimia-kimianya, dan ketika saya cek ternyata belum banyak yang meneliti ini. Akhirnya saya pun menyusun topik tentang ini, dan mencoba mengajukan ke pembimbing saya dahulu. Setelah drama-drama, beliau pun menyarankan untuk bertemu dosen lain dengan topik serupa, biodegradable plastic. Saya mengernyitkan dahi, rasanya bukan ini yang saya maksud. Saya tidak ingin berurusan dengan mikroba-mikroba. Hingga akhirnya saya menghadap dosen lain tersebut dengan tetap membawa topik yang saya pilih sejak awal, mikroplastik.

Agak sedikit cemas akan ditolak lagi topiknya, Alhamdulillah, tanpa disangka, ternyata beliau memang sedang ingin meneliti topik mikroplastik. Sebuah kebetulan yang saya yakin bukan kebetulan. Beliau bahkan mencoret-coret draft yang saya bawa dan saya serasa mendapatkan pencerahan. Alhamdulillah akhirnya dapat topik juga. Rasanya ini jauh-jauh lebih senang dibanding ketika selesai sidang 😀 Pada akhirnya beliau juga menjadi dosen pembimbing saya.

***

Tanpa terasa berakhirlah Semester 4, dengan judul yang baru diterima, tambahan dosen pembimbing baru, dan tentu semangat baru. Perjalanan tesis (baru) dimulai (kembali). Kisah masih berlanjut di Semester 5, bahkan Semester 6. Saya belajar banyak dari Semester 4, belajar dari kesalahan diri, belajar menerima kekurangan dan kelebihan diri, dan menemukan bahwa selalu ada hikmah dari setiap peristiwa.

Sebetulnya, banyak teman saya yang mengalami cerita-cerita “menarik” lainnya seputar tesis, bahkan jauh lebih “menarik”. Mungkin Anda juga?

Advertisements

One Comment on “Semester 4 – S2 TL ITB

  1. Pingback: Semester 5 – S2 TL ITB | Firdha Cahya Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: