Semester 5 – S2 TL ITB

Setelah semester 4 akhirnya dapat topik tesis, Alhamdulillah penulis dihibur oleh Allah dengan diberi kesempatan berangkat umroh di akhir Ramadhan. Sedih dan terharu sih. Tulisan tentang umroh ada di link ini.

Sebetulnya di akhir semester 4, saat Ramadhan, saya sempat diajak dosen pembimbing untuk datang ke suatu seminar di Jakarta. Seminar ini dibawakan oleh Jenna Jambeck yang dikenal akibat penelitiannya yang menyebutkan Indonesia menjadi penghasil sampah plastik terbesar nomor 2 di dunia. Yang menarik sebetulnya bukan tentang seminarnya, tetapi lebih saat harus pergi bersama dosen yang baru dikenal, satu mobil, dalam perjalanan kurang lebih 3 jam. Haha. Agak awkward kan kalau diam saja, jadi ya mau tidak mau ngobrol juga. Di perjalanan, beliau cerita kurang lebih begini, “Bagaimana jadi kira-kira penyelesaian permasalahan sampah di Indonesia? Apakah kerja berbagai LSM lingkungan sudah efektif? Atau seperti pemerintah yang seringkali seremonial belaka tetapi tidak ada tindak lanjut yang signifikan?” Lalu kemudian beliau bertanya lagi pada saya, “Kalau menurut kamu nih sebagai mahasiswa, apa solusi yang kamu tawarkan?”

Saya pun rasanya hanya terdiam dan tertawa, “Haha gimana ya Bu.”

Kompleks dan sistemik, tapi saya membatin, kolaborasi stakeholder dalam sistem quadruple helix, yaitu pemerintah, industri, akademisi, dan masyarakat atau LSM, harus berjalan dan bersinergi untuk menyelesaikan permasalahan sampah. Tak bisa seorang diri, tak bisa satu pihak saja. teori belaka. sok tau ya gue.

***

Oke langsung ke cerita Semester 5.

Pada Semester 5 saya mulai menyusun strategi secepat mungkin agar saya bisa segera seminar 1 (lagi). Menyusun proposal dan mulai menyusun rencana untuk uji pendahuluan. Oh ya, di Semester 4, disebutkan kalau saya ingin tesis yang jauh dari lab, pakai software pemodelan dan hanya di depan laptop saja kan?

Nyatanya, di topik ini saya harus legowo jika saya harus nge-lab lagi. Haha. Bahkan saya harus terjun ke lapangan (ke sungai) untuk melakukan sampling. Suatu hal yang baru untuk anak Kimia yang kerjanya di lab saja.

Alhamdulillah-nya masih banyak orang baik di sekitar saya, sehingga saya banyak dibantu dalam proses sampling di lapangan.

img_20170726_222142_610-e1537112849590.jpg

Hal yang “menarik” dari proses sampling ini adalah lokasi sampling memiliki kondisi sanitasi yang begitu memprihatinkan. Sebetulnya, bersinggungan dengan hal seperti ini menyadarkan saya bahwa ketimpangan sosial begitu jelas terasa, di sekitar kita masih banyak orang yang memiliki kondisi ekonomi memprihatinkan, akses sanitasi yang tidak layak, rumah sederhana nan rapuh yang seringkali terendam banjir, dan kondisi air sehari-hari yang terkontaminasi berbagai limbah. Hal tersebut seolah menjadi tamparan keras bagi kita yang masih bisa hidup dengan nyaman.

***

Setelah sampling untuk uji pendahuluan, mencoba meraba-raba metode yang sesuai, menggunakan mikroskop untuk menebak-nebak mikroplastik, menyusun kembali draft, saya mengajukan lagi untuk maju seminar 1. Memang ngebut. Haha. Lagipula, karena sudah pernah seminar 1 sebelumnya, jadi saya sudah tahu polanya. Namun, tetap saja ada ketegangan yang saya rasakan ketika akan memulai seminar 1. Apakah saya akan ganti topik lagi? Apakah dosa masa lalu akan diungkit kembali? Wkwk.

Ternyata, alhamdulillah seminar 1 (edisi 2) berjalan lancar, sangat lega rasanya. Haha. Walaupun banyak metode yang dirombak, sampling mulai lagi dari awal, tapi tetap saja saya bersyukur karena tidak perlu ganti topik lagi 😀

Di semester 5 juga bertepatan dengan wisuda Oktober, dimana hampir seperempat atau setengah angkatan saya lulus. Sedih-sedih gimana gitu. Gombal.

Pada momen wisuda tersebut, kami teman-teman yang belum lulus (senasib tapi beda-beda tipis) membuat video kenang-kenangan untuk mereka. Video tersebut dibuat oleh anak-anak lab air ++ yang kemudian kami sebut sebagai Lab Air Perdjoeangan.

Tak disangka, merekalah orang-orang yang memiliki peran besar dalam membantu kelulusan saya di ITB. Orang-orang yang dikenal tanpa sengaja, dengan karakter yang beragam tapi sama-sama sedikit gila, yang sebagian besar berkasus juga #eh, yang bertugas untuk saling “melecut” semangat satu sama lain. Sebetulnya proses akrab dengan mereka pun tak serta merta terjadi, butuh proses panjang, nge-lab saat weekend, sampai malam, bahkan sesekali menginap :\ Saya sih kayaknya baru beberapa kali doang. Hehe.

Here they are.

IMG-20180215-WA0034.jpg

WhatsApp Image 2018-05-09 at 5.25.29 PM

dscf4366.jpg

IMG-20180418-WA0014.jpg

Itu foto-foto di semester 6 sih 😀

**

Sebetulnya, hikmah yang saya dapatkan di semester ini adalah, dimanapun posisimu berada saat ini, walaupun itu tak sesuai rencana, bisa jadi kamu menemukan hal terbaik yang tidak pernah kamu sangka sebelumnya. Toh, sesuatu yang tidak ditakdirkan milik kita, tak akan pernah jadi milik kita. Iya kan?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: