Kemalingan dan Jadi Gelandangan di Brussels

2 – 4 Oktober 2016

Setelah kegiatan akademis di Jerman, kami melanjutkan perjalanan ke Brussels, Belgia. Kami naik Bus Euroline dari Jerman dan sampai Brussels pada siang hari. Kala itu baru saja hujan, tapi hujan di sana tidak sederas di Indonesia. Nuansa yang sendu tidak menutupi indahnya gedung-gedung yang ada di Brussels. Dibandingkan dengan kota yang pernah kami kunjungi di Belanda atau Jerman, kota Brussels ini terasa lebih klasik dan artistik.

gerimis di Brussels
Manneken pis. Ikon kota Brussels
Bendera Belgia
Grand Palace

Agenda kami di Brussels sebetulnya hanya sightseeing, berkeliling, membeli oleh-oleh, dan mencoba waffle khas Belgia. Kami tidak punya banyak waktu di Brussels, rencananya kami akan naik bus malam (dini hari) menuju bandara Charleroi untuk naik pesawat Ryan Air ke Italia. Saya pun sudah membuat janji untuk bertemu sejenak dengan Hafidz di Stasiun Brussels selagi menunggu bus tersebut. Namun takdir berkata lain.

waffle
somewhere in brussels

Setelah sepanjang hari berkeliling Brussels, kami menuju stasiun Brussels Midi untuk mencari bus. Saat itu kami belum membeli tiket bus. Kami istirahat sejenak di stasiun lalu makan malam “hemat” ala backpacker.

Setelah makan, Mas Ivan dan Mas Dedi mencari tempat pemesanan bus, sedangkan saya dan Annisa mencari reservasi online pemesanan bus mengandalkan wifi setempat. Kami duduk di lantai bersama dengan barang-barang kami yang banyak. Saat itu kursi stasiun penuh, sehingga kami memutuskan duduk saja di lantai dekat koridor pertokoan. Sayangnya hal tersebut semakin menegaskan bahwa kami adalah orang asing, orang Asia, turis, dan tidak berpengalaman berada di stasiun Brussels.

Malam itu suasana stasiun sudah sepi karena pertokoan sudah tutup, tapi sejak datang kami melihat ada orang-orang yang lalu lalang di setiap koridor pertokoan tersebut. Entah sedang apa tapi mereka tampak mencurigakan. Hal tersebut tentu meningkatkan kewaspadaan kami terhadap orang-orang itu. Bahkan ada satu orang yang datang menghampiri dan bertanya tentang satu hal atau meminta uang (?), saya lupa.

Tapi setelah saat itu, bapak tersebut pergi. Agak lama berselang, tanpa kami sadari dua tas yang ada di sebelah kiri kami sudah lenyap.

Lenyap tak berjejak tanpa suara.

Annisa histeris. Saya panik. Annisa langsung pergi berkeliling mencari tasnya dengan sedikit harap, sedangkan saya masih di tempat menjaga barang dengan perasaan kaget tak terbendung.

“Kok bisa?”

“Kapan hilangnya? Kok cepet banget.”

“Berarti bapak-bapak tadi pengalih perhatian aja.”

“Tapi kok bisa sampe ga sadar? Padahal kan di sebelah banget.”

Semua pertanyaan berputar di kepala.

Mas Ivan dan Mas Dedi datang, kami mulai membereskan barang, membantu mencari sekeliling, bertanya pada keamanan, sambil terus meningkatkan kewaspadaan.

Bertanya pada keamanan pun tak membantu. Mereka bilang, “Kehilangan ya?” Seolah mereka sudah tahu dan menjadi hal yang lumrah terjadi.

Prihatin.

Saat itu rasanya kami seperti diteror. Kami sadar orang-orang yang sejak tadi bolak-balik memang berkomplot, bahkan mereka masih mondar-mandir setelah tas kami diambil. Mereka masih mengincar kelengahan kami dan orang-orang lain yang berada di stasiun. Gila pikirku. Mereka sangat professional.

***

Kejadian ini membuat kami mengubah rencana. Tak bisa kami melanjutkan perjalanan ke Italia, karena tas yang hilang berisi barang-barang berharga, uang, dan PASPOR Annisa. Kami memutuskan untuk segera meninggalkan stasiun itu karena faktor keamanan. Lebih baik kami ke Stasiun Brussels Centraal, ada wifi juga, dan relatif lebih ramai.

Kami pun ke Brussels Centraal, mencari spot wifi, duduk dan beristirahat sejenak. Kami berpikir untuk menginap saja di stasiun hingga esok pagi, baru kemudian mengurus surat-surat kehilangan paspor. Siapa tahu juga kami bisa bertemu Hafidz dan meminta bantuan. Saat itu pun handphone kami satu demi satu mulai kehabisan baterai, power bank pun sudah mati.

Tak lama kami beristirahat, tiba-tiba sekuriti datang untuk clearing area. Kami ternyata tidak bisa menginap di stasiun Brussel Centraal. Kami terusir lalu keluar dari gedung. Entah jam berapa itu, sepertinya sudah jam 11 malam.

Brussels centraal saat siang hari

***

Kami keluar stasiun, kondisi bingung tak tahu arah. Kami duduk di kursi-kursi halte di dekat stasiun sambil berpikir mencari solusi. Tak lama kemudian, terdengar gerombolan orang yang sepertinya mendekat ke arah kami. Seperti suara orang mabuk dan marah. Daripada terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, kami meninggalkan tempat tadi.

Kami berjalan, terkatung-katung, mencari tempat bernaung. Siapa tahu kami bisa mendapatkan wifi dan mencari pertolongan. Sambil terus berjalan, kami melihat tempat yang buka dan menyala. Tapi setelah mendekat, ternyata itu klub malam. Wew. Apakah kami mencari pertolongan ke klub malam? Sepertinya kami urungkan niat itu. Terlalu beresiko pikir kami.

***

Kami pun berjalan lagi hingga menemukan hotel menyala. Saat itu kami mencoba masuk untuk menanyakan harga menginap, tapi sepertinya hotel tutup (atau penuh?). Saya lupa.

Akhirnya kami hanya mencari pojokan di luar gedung untuk kami menggelar alas. Kami butuh duduk setelah berjalan cukup jauh.

Dulu duduk di pojokan belakang patung ini. wkwk Foto siang hari (Sumber foto: https://www.tripadvisor.ie/Attraction_Review-g188644-d9585782-Reviews-Smurf_Statue-Brussels.html )

Saat itu kami benar-benar seperti gelandangan, tidak menyangka akan seperti ini ketika di Eropa. Bahkan berpikir, sepertinya kita akan menginap disini, beralas tanah, beratap langit. Haha.

Tanpa disangka, kami mendapatkan koneksi wifi hotel lalu kami langsung mencoba menggunakannya untuk mencari bantuan. Jangan heran. Kami jadi terbiasa menggunakan wifi publik selama disini. Tebak password dan tiba-tiba berhasil. Wkwk 😦 darurat mohon maap.

Hanya tablet Mas Dedi yang masih menyala. Beliau pun menghubungi rekan-rekan lpdp nya, berita kehilangan kami pun viral (wkwk). Alhamdulillah muncul bantuan, ada Kreeshna, mahasiswa S2 di Brussels yang juga ketua PPI Belgia membalas chat dan bisa menampung kami. Untungnya beliau masih bangun di jam 2 pagi (?), saat kami terkatung-katung di jalan.

Kami pun naik uber ke penginapan Kreeshna, disambut dengan wajah penuh tanya sedikit prihatin. Haha. Menceritakan panjang kejadian, beliau bersedia membantu mengantar kami untuk mengurus kehilangan paspor ke kedubes RI di Brussels. Alhamdulillah.

Saya jadi ingat, Hafidz masih belum saya hubungi. Akhirnya saya hubungi dan meminta Hafidz ke penginapan Kreeshna saja sekalian. Bertemu dengan cara yang tidak menyenangkan. Haha.

Malam itu rasanya kami tidak tidur. Tiba-tiba sudah shubuh, dan langsung menyusun rencana pagi itu.

Singkat cerita kami semua ke Kedubes, untuk mengurus kehilangan paspor. Saya jadi tahu betapa hangatnya suasana KBRI di Brussels. Mungkin semua kedubes juga seperti ini ya. Seperti “rumah” bagi sekian banyak anaknya di luar negeri.

KBRI di Brussels

Siang hari saya menemani Hafidz keliling Brussels sejenak karena dia belum ngapa-ngapain di sana. Mas Ivan dan Mas Dedi mencoba ke polisi kembali untuk mengurus surat kehilangan. Alhamdulillah setelah agak lama (sepertinya besoknya ya?), surat keterangan sebagai paspor sementara pun sudah didapatkan kembali.

with hafidz, gue kayak zombie kurang tidur

Keesokan siang kami melanjutkan perjalanan ke Paris dengan bus Eurolines. Kami berpamitan dengan Kreeshna. Perjalanan di Brussels yang tidak terduga akhirnya berakhir. Perjalanan kami ke Paris pun tidak se-excited sebelumnya, tapi semoga bisa menjadi penghibur di penghujung perjalanan kami di Eropa.

Semoga pengalaman kami bermanfaat

Pesan kami: hati-hati ya ketika di Brussels. hehe

foto bersama yang tersisa setelah kehilangan
Advertisements

3 thoughts on “Kemalingan dan Jadi Gelandangan di Brussels

  1. Pingback: Cerita dari Paris – Firdha Cahya Alam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s