Cerita dari Paris

4 – 6 Oktober 2016

Setelah berbagai drama di Brussels, kami melanjutkan perjalanan ke Paris. Perjalanan dengan bus cukup lama hingga akhirnya kami sampai di Paris pada malam hari.

Kami menumpang di penginapan temannya-teman kami di Paris. Saat itu, teman kami (Ibnu dan Indah) sedang tidak di Paris sehingga kami diungsikan ke teman-temannya. Hehe. Tapi hal ini menambah pengalaman berharga karena mendapat kenalan baru.

Saat malam hari kami baru sampai di Paris, kami sudah seperti gembel karena kelelahan dan belum makan malam. Haha. Kami pun menghubungi temannya-teman kami, tapi ternyata dia sedang berada di acara PPI di KBRI Paris. Kami pun diminta untuk datang saja ke acara KBRI tersebut.

Saat sampai di KBRI, kami terkejut, ternyata saat itu bukan acara PPI biasa. Itu merupakan acara resmi yang dihadiri pejabat-pejabat KBRI. Bahkan orang-orang memakai pakaian resmi atau batik! Wow. Dan hanya kami yang datang dengan jaket tebal, syal, dan muka lusuh sisa perjalanan. Wkwk. Untungnya tas carrier kami sudah dititip di pos keamanan.

Ketika kami masuk seolah semua mata tertuju pada kami. Haha. Malu dikit.

Untungnya kami datang saat sudah mendekati penghujung acara, tinggal makan-makan saja. Dan ini yang penting: MAKANAN INDONESIA PRASMANAN tersedia dengan cantiknya. Huhu. Pengen nangis ga sih setelah belasan hari hanya makan nasi abon, indomie, dll., sekarang bertemu makanan mewah. Wkwk. Alhamdulillah.

tadinya ini tempat prasmanan. wkwk. baru bisa foto setelah cas hape

Acara pun selesai. Saya, Mas Dedi, dan Mas Ivan menuju penginapan Mas Septa, sedangkan Annisa ke Rumah Mbak Titik Setyorini. Mas Septa ternyata ketua PPI Perancis, sedangkan Mbak Titik tinggal bersama suaminya yang sedang S3, ditemani anaknya yang masih kecil.

***

Keesokan paginya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke Paris. Kemana lagi kan kalau bukan ke Menara Eiffel. Heuheu. Saat pertama kali melihat Eiffel perasaan saya hanya “Oh jadi ini Eiffel. Biasa sih ya, ga tinggi-tinggi amat kayaknya.”

Lalu mulai lah foto-foto. Nah entah mengapa, setelah difoto jadi terasa indah menara ini. Terasa ada magic tersendiri bahwa ada keindahan yang makin lama dirasakan. Wkwk. Alay.

Endorse Kamil

Baca juga: Jangan Ragu Gabung Kamil!

Eiffel

Kami pun kemudian berputar mencari Museum Louvre, dan tempat mainstream lainnya. Sebetulnya sedikit-banyak saya terinspirasi dari perjalanan pada Buku 99 Cahaya di Langit Eropa, sehingga ketika di Paris saya mencoba mencocoklogikan dengan apa yang dulu saya baca.

Baca juga: Resensi Buku 99 Cahaya di Langit Eropa

Cuma foto depan Museum Louvre, karena masuk ke dalam mahal. wkwk. (Kami aja sih yg misqueen. wkwk).
Arc de triomphe de l’Étoile
(jangan sensitif sama jari yak. wkwk)

Sebagai info, di sekitar Eiffel katanya banyak komplotan pencuri, yang biasanya berkerumun, dan tiba-tiba mengambil dompet kita tanpa sadar. Tapi ALHAMDULILLAH kami aman. Mungkin karena kewaspadaan meningkat ya semenjak dari Brussels. Hehe.

***

Hal unik yang saya temui di Perancis dibandingkan negara sebelumnya yang saya kunjungi adalah bahasanya. Bahasa Perancis terdengar seperti orang yang membaca puisi, bersyair, mengalun bagai lagu. Haha. Sedangkan Bahasa Jerman kan terdengar kaku ya, kalau Bahasa Belanda 50:50 lah ya. Haha.

Hal menarik lain yang saya temui adalah tentang kehidupan muslim di Paris. Saat kami berada di daerah penginapan Mbak Titik, tepatnya di daerah Vitry Sur Seine, terlihat banyak sekali mbak-mbak berhijab dan toko halal. Bahkan kadang saya merasa, apakah ini di Paris? Kok kayak di Indonesia. Wkwk. Tak heran, ternyata Perancis merupakan salah satu negara di Eropa dengan jumlah muslim yang cukup banyak.

Vitry sur Seine

Kami pun sempat mengunjungi Masjid Paris (Grand Mosquée de Paris) di dekat Stasiun Place Monge, Paris. Info keberadaan masjid ini pun kami ketahui dari Mbak Titik ketika mampir ke rumahnya. Mengunjungi masjid ini jauh terasa lebih damai dibanding mengunjungi Eiffel yang penuh keramaian.

Backpacker wkwk
Masjid Paris
Silakan yang ngerti bahasa perancis. wkwk
Tampak dalam masjid

Hal mengesankan yang saya temui dari keluarga Mbak Titik adalah tentang bagaimana tetap menjaga identitas seorang muslim ketika tinggal lama di luar negeri. Apalagi menyangkut pendidikan anak dan lingkungan bergaul anak. Terlihat dari anaknya yang sangat cerdas, sangat lugas, berani bertanya dan berpendapat, tetapi tetap penuh sopan santun.

Bertamu ke rumah beliau pun menjadi terasa suasana rumah dan kekeluargannya. Disuguhi makanan Indonesia dengan suasana yang nyaman. Sayangnya, saat itu kami belum sempat bersilaturahim dengan Suami Mbak Titik karena beliau sudah berada di kampus.

Bersama Mbak Titik

Terima kasih atas bantuannya Mbak Titik, Mas Septa, dan teman-teman lainnya.

***

Akhirnya perjalanan kami di Paris dan di Eropa telah usai, kami pulang menuju Indonesia. Perjalanan panjang yang penuh pembelajaran. Mengingatkan kembali akan arti merawat mimpi, menurunkan ego, saling menghargai perbedaan, hingga merasakan hangatnya kekeluargaan warga Indonesia di Eropa. Sungguh semua ini tiada lain karena pertolongan Allah semata.

Semoga cerita perjalanan kami bermanfaat 🙂

Semoga pembaca juga diberi kesempatan untuk berkunjung ke Eropa. Aamiin.

Baca juga:

Bon Voyage
Advertisements

One thought on “Cerita dari Paris

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s